TUGAS MAJALAH LAGI !

13 03 2009

Bibir-bibir di Atas Negeriku

Aku menghilang
Dari sorak sorai orang-orang di sekeliling
Lidahku membatu
Aku luruh dalam kebiruan

Di sana, di depan kokohnya bangunan putih
Ada saudaraku
Gemulai jarinya melambai
Aku menggeleng
Hatiku begitu tak sampai

Sekumpulan orang itu
Tengah membabat dasi-dasi tak bertanggung jawab
Meminta rute yang jelas, ke mana negeri akan dibawa

(Mudrikah/XI.IPA.3)

Tegar Dalam Senja

Pucuk cemara tanggal perlahan,
Mengoyak daun kuning di tepian,
Angin melesat elok menyusuri pinggang-pingang pohon
Muka siapakah yang masih tegar tak berselimut senja?
Saat layar siang perlahan-turun turun
dan sinar bintang jatuh ke tanah
Muka siapakah yang cemerlang memesona tak bernoda?
Saat romansa gelap menggelayut
Dan katak mulai mendendangkan nyanyiannya

(Mudrikah/XI.IPA.3)

Advertisements




TUGAS MAJALAH !!!

13 03 2009

Sudah Selesaikah Lukisan Kita? (Psikologi)

Saya harus cukup berhati-hati dalam menulis artikel ini. Artikel ini mengingatkan saya akan beberapa cuplikan perjalanan saya selama ini. Ups, perjalanan ke mana ? Perjalanan yang saya maksud adalah rekaman kehidupan yang sudah saya jalani selama belasan tahun ke belakang. Saya yakin, dalam belasan tahun belakangan ini, anda juga memiliki hal yang sama dengan saya, bukan ? Lalu, apa koneksi antara perjalanan dengan kata ‘Lukisan’ pada judul di atas ? Anda akan temukan di bawah nanti.
Hidup bukanlah sesuatu hal yang sia-sia karena kita diciptakan untuk terus berkarya. Pasti ada saja yang bisa kita lakukan. Sudahkah anda merasa begitu ? Kalau belum, ada baiknya anda melanjutkan uraian di bawah ini.
Manusia tak pernah luput dari lima huruf yang selalu membayangi ke manapun ia pergi. Mimpi. M-I-M-P-I. Mimpi adalah semacam magnet yang mencetuskan hal apa yang sesungguhnya kita inginkan. Siapa yang tak pernah punya mimpi? Kalau saja ada, pasti ia sudah tak lagi ada di dunia ini. Keberadaan mimpi terlampau banyak. Mimpi untuk selalu bersenang-senang, mimpi untuk selalu dalam kesuksesan, bahkan jikalau ada orang yang ingin mati, maka mimpinya adalah keingingan untuk mati tersebut. Begitu ia mati, tak ada lagi yang bisa kita dia impikan sesudah kematiannya. Bukan begitu ?
Oke, kita akan lanjutkan.
Mimpi datang dari ujung nurani kita yang paling dalam. Tak ada yang bisa mencegah munculnya, karena terkadang ia datang tanpa kita sadari. Mimpi akan menggali lubang dalam pola pikir kita, hingga akhirnya keseluruhan aktivitas yang tentu saja lakukan akan berorientasi kepada mimpi. Mimpi membuat kita menyadari atas dasar apa kita melakukan sesuatu, dan ke manakah kita akan berjalan selama gayung kehidupan masih berlanjut. Mimpi membuat kita membuka mata lebih jauh bagaimana kehidupan ini seharusnya berjalan dengan harmonis. Atau, justru timbul pertanyaan, bagaimana cara menjalankan kehidupan yang harmonis ?
Untuk itulah, analogikan sebuah kehidupan layaknya sebuah lukisan. Apapun yang kita yang inginkan akan terekam secara otomatis dalam otak. Semua yang akan kita lakukan akan tersimpan pribadi dalam benak setiap manusia. Lukisan, akan terbentuk saat kita berani menggoreskan kuas. Siapakan kuas itu dalam kehidupan kita ? Dia adalah mimpi yang telah kita rangkai. Mimpi yang telah kita cita-citakan. Mimpilah yang akan memberi petunjuk ke mana kuas kehidupan akan menorehkan goresannya. Mimpi pula yang mengisyaratkan sang kuas bagaimana bentuk goresan kehidupan yang selayaknya ingin kita jalani puluhan tahun ke depan. Goresan-goresan itulah yang nantinya akan memberi bayangan bagaimana kehidupan kita berjalan. Apakah sampai tahap ini anda sudah memastikan diri anda sudah menggoreskan sesuatu pada kanvas kehidupan ? Tak ada jawaban selain, ya. Bagaimana tidak ? Kalau anda menjawab ‘tidak’ tentu saja, tak ada kehidupan yang pernah anda jalani sebelumnya.
Warna. Bagaimana dengan warna ? Melukis tak akan terasa hidup, tanpa warna. Melukis takkan berwarna jika tak ada setitik pun warna yang menjangkaunya. Tak puas kita menggoreskan kuas, warna akan memberikan keindahan pada segalanya. Warna adalah penyempurna dari segala lukisan. Apapun warna itu, akan berarti bagi yang menggoreskannya. Warna akan memberitahu sejauh mana seni kehidupan mempengaruhi hidup seseorang, termasuk saya dan anda. Warna ternyata mampu memberikan kekuatan yang tiada tandinganya. Jumlah warna yang tak terhingga membuat kita tahu bahwa kita berhak atas perwarnaan hidup kita sendiri tanpa batas. Perihal mengapa harus warna itu yang tergores, kenapa tidak yang itu saja, hanya anda saja yang tahu. Bukan begitu, kawan? Nah, sekarang yang jadi pertanyaan, sudahkah masing-masing dari kita mengolah warna itu dengan sebaik-baiknya? Atau bahkan, ada yang sama sekali tak mau menorehkan warna, dan hanya puas dengan goresan kuas saja? Itu akan sama halnya dengan ketika anda berdiri, anda tak mengenakan baju. Karena warna laksana baju yang memperindah rubuh seseorang. Maka, janganlah berhenti memberikan warna pada setiap detil kehidupan. Hanya dengan begitualh kehidupan akan berasa, dan lebih bermakna.
Seni tiap orang pastilah berbeda, begitu pula seni dengan seni anda. Setelah puas menggoreskan kuas dan menorehkan warna, ada satu hal yang tak terlupakan. Karakter. Kekhasan. Ciri khusus. Tahukah maksudnya?
Lukisan sejati tak hanya terbentuk dari kedua elemen yang sudah disebutkan di atas. Lukisan sejati akan mencapai titik sempurna saat dia memiliki karakter. Lantas, apa itu karakter? Apa yang harus kita buat dengan karakter ? Haruskah kita punya karakter?
Seseorang akan mengenali sang empu lukisan jika dan hanya jika lukisan tadi sudah memancarkan karakter tersendiri. Sudah terbayang, betapa pentingnya karakter dalam kehidupan kita ? Tinggal bagaimana kita memunculkan karakter. Karakter dalam kehidupan akan tampak, sebagai jati diri. Jati diri yang ke mana pun selalu kita cari. Maka, bukan gurauan jika selama ini kita mengenal motto, ‘BE YOUR SELF !”. Jati diri akan menolong kita saat memutuskan tentang pilihan-pilihan yang harus kita ambil, tanpa perlu menjdi orang lain. Bukan berarti nasihat orang lain tidak penting, tapi bagaimana kita menempatkan diri di posisi yang tepat.
So, sudah selesaikah lukisan kita?
Lukisan kita takkan selesai selama kita masih menghela napas. Akan ada ornamen lagi yang bermunculan, sebagai tanda bahwa hidup masih berjalan. Akan ada lagi, warna yang tertuang. Indah dan menawan. Goreslah kuasmu, sejalan dengan jati dirimu, sebagaimana aku mencoba menggores kuasku juga. Semoga, untuk kita semua. Jangan lupa, goreskanlah kuasmu sekali saja, dengan yakin dan penuh pengharapan akan mimpi. Kau akan tahu betapa goresan pertama menjadi keputusan penting yang akan membawamu ke dalam jalanmu sendiri. Karena goresan pertama, adalah sesungguhnya dari jati diri kehidupan kita.





PROFIL KACA TGL 17 MARET.Moed

13 03 2009

mbaaakkkk, ni setelah sekian lama nunggu loading, akhirnya tembus juga. tapi, mail.yahoo.com-nya nggak mau muncul ! kepaksa banget, lewat blog …

kemaren aku udah ngumpulin hard copy bareng yang laen, karena aku nggak tahu, tak kira hard copy aja cukup. komputer rumah agak ‘sakit’ kena virus, masih dalam tempo perawatan. kata dokter nggak boleh di masukkin flash disk.
sakjane semua tugas sekolah juga ke-pending gara-gara itu kok mbak. hehe, aneh banget ya?
makanya, hari ini tak bela-belain ngetik ulang di skolah.

check it down !
———————————————————-
Sekolah ‘Nyambi’ Bisnis, Kenapa Tidak?

Siapa bilang berbisnis hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa? Belakangan ini, lahan bisnis telah merambah ke berbagai usia, terlebih tingkat usia yang rata-rata dihuni oleh remaja. Tak tanggung-tanggung, remaja yang dimaksud masih mengenyam pendidikan di tingkat SMA yang notabene masih memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu. Sebut saja Nana, siswa kelas XI IPA 4 SMAN 3 Yogyakarta. Setahun belakangan ini, dirinya tengah concern mewujudkan impiannya memiliki café. Nah, apa nggak repot tuh?
“Justru asyik sih, sebenernya ! Memang kadang-kadang repot juga, harus ini itu, padahal aku harus ngadepin ulangan,” papar gadis bernama lengkap Mirna Jatiningrum, yang sudah mencoba berbisnis yoghurt ini.
Gadis kelahiran Sleman, 16 Desember 1991 ini mengungkapkan pada awalnya ia dan keluarganya hanya bereksperimen dengan susu murni yang dibeli dari tetangga sebelah. Ternyata, hasilnya patut dibanggakan. Dibantu keluarganya, ia mendirikan milkshop di rumahnya, di daerah Kaliurang. Berkat kekreatifannya pula, yoghurt buatannya berhasil menembus event-event di sekolah dan mendapatkan tempat tersendiri di hati penggemarnya. Beserta kakaknya, Mira Asriningtyas, ia mendirikan café di Jalan Gayam 35 Yogyakarta, tak begitu jauh dari sekolahnya. Nama café-nya adalah CUPS.
CUPS sebenarnya lebih diperuntukkan untuk kalangan remaja dan mahasiswa. Namun, putri ke-2 dari pasangan Wihartoyo (alm) dan Budi Rahayu ini tidak membatasi bagi siapa saja yang ingin datang ke CUPS, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Di sana tersedia susu aneka rasa, teh, yoghurt aneka rasa (blackforest, blueberry, dll), kentang bahkan makan besar sepert nasi goreng dan scrammbled egg. Uniknya lagi, nih, mulai bulan Nana juga membuka Club of CUPS seperti klub memasak, jurnalis, dan beberapa klub hobi lainnya.
Apa enaknya kita berbisnis, padahal kita masih punya orang tua yang senantiasa menghidupi kita? “Selain seneng punya café sendiri, bisnis juga bikin kita belajar mandiri dan punya tanggung jawab. Kita juga bakal memperoleh banyak pengalaman dan relasi, kan seru tuh,” jelasnya mantap.
Ia pun mengaku bahwa ia sendiri masih menomorsatukan sekolahnya. Baginya berbisnis sama saja dengan ekskul mandiri. Ia berharap bisnisnya akan membuahkan sesuatu yang patut dibanggakan. Kelak, ia juga ingin mendirikan sekolah dan bisa keliling dunia. Wow, ternyata asyik juga, kan? Nah, kalau Nana saja bisa, kenapa kita tidak ?***

(Mudrikah/SMAN 1 Yogyakarta)

————————————————————–
mbak, kemaren si Bella minta tanda pengenal, katanya…

matur nuwun.
mudrikah.





materi vb klaz XI

6 03 2009

Pengaturan Interface:

Komponen Propertis Isi
label caption Nama Pembeli
label caption Quantity
label caption Harga Satuan
label caption Bayar
Textbox Name Nama
text (Kosongkan)
Textbox Name Nama
text (Kosongkan)
Textbox Name Qty
text (Kosongkan)
Textbox Name harga
text (Kosongkan)
Textbox Name bayar
text (Kosongkan)
enabled False
CommandButton caption Hitung
CommandButton caption Bersih
CommandButton caption Selesai

Pemberian Script Program
Langkah-Langkah
1. Klik 2 kali pada tombol hitung, ketikkan script yang berwarna merah berikut
Private Sub Command1_Click()
bayar.Text = Val(qty.Text) * Val(harga.Text)
End Sub
2. Klik 2 kali pada tombol bersih, ketikkan script yang berwarna merah berikut

Private Sub Command3_Click()
nama.Text = “”
qty.Text = “”
harga.Text = “”
bayar.Text = “”
nama.SetFocus
End Sub
3. Klik 2 kali pada tombol selesai, ketikkan script yang berwarna merah berikut
Private Sub Command2_Click()
End
End Sub

KERJAKAN SOAL BERIKUT!
1. Menentukan luas lingkaran

2. Konversi Suhu
Rumus konversi suhu dari Celcius ke Fahrenheit dan Reamur dapat ditulis sebagai berikut :
tF = 9/5 tC + 32 tR = 4/5 tC

3. Konversi Satuan Panjang
Konversi satuan panjang dari yard, kaki dan inchi ke meter menggunakan standar berikut ini :
1 yard = 3 kaki = 0,9144 meter
1 kaki = 12 inchi = 30,48 centimeter = 0,3048 meter
1 inchi = 25,4 milimeter = 0,0254 meter





ZERO, Ansamble SMAN 1 Yogyakarta

15 02 2009

Kini, beragam kegiatan ekstrakurikuler dapat diikuti oleh siswa di sekolah masing-masing. Seperti halnya, SMAN 1 Yogyakarta juga memiliki banyak wahana ekstrakurikuler untuk menyalurkan kreasi yang dimiliki siswa, salah satunya adalah ansamble. Komunitas yang menamakan dirinya ‘ZERO’ ini bergerak di bidang musik dengan menampilkan bermacam-macam alat-alat musik seperti gitar, recorder, biola, keyboard, dan sebagainya. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan anggota yang jumlahnya mencapai kurang lebih 40 orang. Arif Budi Mulyawan, siswa kelas XII IPA 1, mengungkapkan bahwa ZERO dibentuk untuk menampung para pecinta musik yang mau bekerja sama dan tentu saja tidak egois. Apalagi, apresiasi siswa SMAN 1 Yogyakarta terhadap musik tergolong tinggi, dilihat dari banyaknya siswa yang berminat masuk ZERO.
Kelompok pecinta musik ini, meski masih berstatus sie non otonom, ternyata juga mampu menelorkan pemain-pemain yang patut diacungi jempol. Ditilik dari usianya yang baru menginjak tahun keempat, ZERO sudah menjajaki event-event penting, baik di dalam maupun di luar sekolah, seperi MOS (Masa Orientasi Siswa), purnasiswa, tutup tahun dan sebagainya. ZERO juga sempat diundang untuk tampil di TVRI, Jogja TV, dan di Kepatihan.
“Di sini, kita belajar dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah, seperti motto kami, From Zero to Be Hero,” terang Arif, yang juga merupakan ketua ZERO.
Ketika ditanya perihal arti dari motto tersebut ia menjelaskan bahawa ZERO itu kumpulan dari anak-anak yang suka musik, yang selalu belajar bersama untuk mencapai puncak.
“Kami membuka seluas-luasnya bagi adik-adik kelas X dan XI untuk bergabung dengan ZERO. Jangan sampai nggak ikutan ya!” tandasnya mantap.

(Mudrikah/SMAN 1 Yogyakarta)





Seberapa Penting, sih, Perpustakaan Sekolah itu?

15 02 2009

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perpustakaan berarti kumpulan buku-buku. Bisa juga disebut taman pustaka atau bibliotek Sementara itu, berdasarkan pengertian sehari-hari, perpustakaan merupakan tempat yang difungsikan untuk menyimpan berbagai buku, dokumen, jurnal-jurnal, surat kabar, dan berbagai bentuk bacaan yang lainnya. Dewasa ini, perpustakaan tak hanya menyediakan fasilitas seperti yang sudah disebutkan, namun mulai merambah ke arah teknologi, yakni internet. Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta tentu saja memiliki beberapa perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh warganya. Namun, sebagai pelajar, perpustakaan yang paling sering digunakan adalah perpustakaan sekolah. Rasanya kurang lengkap tanpa perpustakaan sekolah. Seberapa pentingkah perpustakaan sekolah bagi pelajar ?
“Jelas penting banget, banyak manfaat yang didapat !” ujar Umi Luthfiah, yang biasa dipanggil Upik. Apa yang dikatakan oleh siswa SMAN 1 Sewon ini, senada dengan yang disampaikan oleh Arum, siswa SMAN 1 Jetis.
“Lumayan, daripada beli di luar, mending pinjam di perpustakaan sekolah !” tegas siswa yang bernama lengkap Arumatul Khasanah tersebut.
Perpustakaan sekolah seringkali digunakan oleh para siswa pada saat mencari sumber-sumber tertentu, sebagai pelengkap dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh guru. Sumber-sumber yang dimaksud bisa langsung dari buku atau dari internet. Bagi siswa yang gemar membaca buku, perpustakaan sekolah bisa menjadi alternatif utama untuk meminjam buku, atau sekedar membaca di perpustakaan.
Menanggapi hal itu, tentu saja dibutuhkan perpustakaan sekolah yang memiliki kualitas baik dan menjangkau kebutuhan para siswa., sehingga siswa tidak perlu repot-repot saat mencari bahan atau sumber. Ada beberapa factor yang dapat menunjang perpustakaan sekolah agar memperoleh predikat baik. Pertama, kelengkapan koleksi perpustakaan. Hal ini dibenarkan oleh Arum.
“Ini penting, apalagi kalau lagi ngerjain tugas,” begitu katanya.
Tak hanya itu, faktor kenyamanan dan pelayanan juga berpengaruh dalam upaya menarik siswa untuk sesering ungkin mengunjungi perpustakaan.
“Kan enak, kalau ada AC, bisa untuk ngademin badan. Apalagi tempatnya nyaman, dengan petugas yang ramah dan cekatan,” tukas Upik.
Selain kedua faktor di atas, Nabila Khairunnisa, siswa SMAN 1 Yogyakarta menambahkan, komputer dan mesin foto kopi adalah barang yang harus ada. Memang tak dapat dipungkiri kalau faktor kecanggihan teknologi semakin diperlukan. Apalagi, melihat perkembangan teknologi yang berkembang pesat dari tahun ke tahun. Maka, tak heran, jika beberapa sekolah di Yogyakarta mulai menyajikan perpustakaan sekolah dengan basis teknologi, seperti fasilitas komputer, kamera, internet, layanan foto kopi, layanan scan dan print, TV, dan lainnya. Untuk mempermudah mencari buku yang dimaksud ada pula perpustakaan sekolah yang sudah menyediakan program pencarian buku. Tak hanya itu, ada juga sekolah yang memberikan fasilitas hot spot di perpustakaannya. Oleh karena itu, kini berbagai SMA di Yogyakarta mulai membenahi sistem perpustakaan sekolah mereka agar dapat dimanfaatkan dengan baik dan mampu melahirkan generasi pelajar yang cinta membaca. (Mudrikah/SMAN 1 Yogyakarta)





BINGKISAN VALENTINE

15 02 2009

Devi mengerling pada keempat kawannya yang kini berbinar-binar, mengacungkan potongan coklat mereka yang panjangnya nyaris sejengkal tangan orang dewasa. Zee akan menghadiahkan coklat termanisnya untuk Vio, gebetan barunya, ‘hasil penemuan’-nya setelah bertahun-tahun mencari-cari cinta. Sementara Rei bilang, dia pengen membingkiskan kado terindahnya untuk Ami, sahabat penanya yang berada di Padang. Lalu, Ikke, dia mah sudah bercerita sejak dahulu, kalau Valentine tiba, dia akan menghadiahkan sebatang coklat pada papanya, sebagai tanda terima kasih karena papanya sudah membesarkan dia, meski hanya single parent. Itu gara-gara mamanya kecelakaan dua tahun lalu. Dan di antara keempat kawan Devi, Sani-lah yang kelihatan paling bersemangat.
“Aku sih sudah tahu kalau Dani gemar makan coklat. Jadi, nggak ada salahnya aku ngasih coklat ini buat dia, sekaligus ulang tahun hari jadi kami yang kedua. Semua denger ?!!” Pipi Sani berseri-seri merah. Keempat gadis lainnya hanya beruhu-uhu menaggapinya.
“Kamu sendiri, Dev? Mau ngasih coklat sama siapa?” tanya Zee sambil memperbaiki letak duduknya, diikuti yang lain.
“Aku…, aku.. , eng.., aku masih bingung. Nggak tahu mau ngasih coklat ke siapa…” Glek ! Devi mendadak kaku, gugup tak karuan. Sani, Zee, Ikke, dan Rei mendesah pelan.
“Masa belum, sih?” Rei protes lirih. Devi hanya mengangguk pelan.
”Udah, deh, lupain aja !” Devi bangkit tanpa semangat menuju pintu kelas. Keempat gadis lainnya berpandangan penuh arti. Mata mereka saling bertemu dan mengisyaratkan bahwa memang ada yang perlu dibicarakan.

Adakah yang tahu kalau Valentine tahun lalu Devi mendapatkan kado terburuk dari segala kado yang pernah ia terima selama ini? Mungkin hanya keempat kawannya saja yang tahu. Malam Valentine itu, Devi memandangi lekat potret papa mamanya beberapa tahun lalu. Tepat setahun lalu, papa mamanya memutuskan untuk berpisah. Semenjak saat itulah, ia tak mau tinggal dengan keduanya. Ia memilih nge-kost. Sekarang, saat keempat kawannya menyibukkan diri mengenai siapa yang akan menerima coklat kasih sayangnya masing-masing, Devi memilih tak berkomentar sedikitpun. Akhir-akhir ini perasaannya semakin tak menentu saja. Ia bingung, hendak memberikan coklatnya pada siapa. Bahkan, mengharap mendapatkan coklat pun tidak. Papa mamanya mana mau tahu hari itu hari Valentine apa bukan.
Seandainya saja papa dan mamanya masih berada alam satu atap, Devi pasti akan menghadiahi keduanya seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni sebuah cake coklat berbentuk hati, bertuliskan ‘Buat Papa Mama’. Itulah cara Devi menunjukkan rasa cintanya. Tapi, kini keduanya seolah jauh dari jangkauan. Sungguh, itu membuat Devi takut menghadapi Valentine tahun ini. Bayang-bayang itu seolah baru saja terjadi. Sebelum matanya sempat terpejam dalam rasa kantuk yang mencekam, sebuah ide terbersit. Devi justru tersenyum memikirkannya.

“Dev, udah tahu siapa yang bakal kamu kasih coklat hari ini?” tanya Rei penasaran. Tiga lainnya menunggu jawaban dengan was-was.
“Nggak usah khawatir ! Udah beres, kok. Sayang, mereka itu bukan kalian! Ha..ha..ha..” Devi tertawa nyaring. Rei, Zee, Ikke, dan Sani lega mendengarnya. Kedengarannya Devi sudah tak murung lagi.
“Oke, deh, kalau gitu. Ke kantin yuk !” ajakan Ikke, langsung disambut meriah oleh empat gadis yang lain. Devi merasa tak kesepian lagi. Tak lama kemudian, kelimanya sudah bersenang-senang di kantin. Dan semua tertawa, tak terkecuali.
Devi tak tahu, ada empat batang coklat yang sudah tergeletak di tasnya, untuknya, dari keempat kawannya. Sebaliknya, tak ada yang tahu mengapa hari ini, Hari Valentine, Devi kelihatan senang, padahal hari sebelumnya ia nyaris tak tersenyum. Pagi itu juga, seorang pengantar paket roti telah mengirim dua buah kardus yang masing-masing berisi separuh cake coklat berbentuk hati kepada papa dan mamanya Devi. Devi berharap, dengan bingkisan itu keduanya akan sadar betapa dirinya sangat merindukan keduanya. Ia ingin keduanya kembali bersama tahun ini, meski tak tahu harapan itu akan terkabul atau tidak. Semua biarlah berjalan dengan sendirinya. Yang penting, hari ini ia merasa tak terbebani lagi. Jika saja cinta kedua orang tuanya tak mampu bersatu lagi, ia sudah merasa bahagia hidup di sekeliling keempat kawannya yang sayang padanya. Bukankah memang seharusnya begitu ?
***