Batik, Teman atau Sahabat?

15 02 2009

Masa remaja merupakan masa yang dinilai memiliki pengaruh penting bagi perkembangan jiwa seorang individu. Tinggal mengatur bagaimana caranya memanfaatkan momen yang terindah itu dengan pelajaran yang bermanfaat.
Remaja, sebagaimana diceritakan oleh pendahulu kita, merupakan masa penting dalam hal penanaman kepemilikan akan budaya lokal, yang imbasnya mengarah ke masalah pelestarian budaya.
Sebagai warga Yogyakarta, tentulah kita tidak asing dengan batik. Batik termasuk dalam rentetan daftar kebudayaan yang dipunyai oleh leluhur Jawa. Corak batik dapat ditemui dalam bentuk jarik, lendhang, dan bermacam jenis lainnya. Pemasarannya pun, dewasa ini, nampaknya sudah mulai menembus pasar global dengan nilai jual yang tinggi.
Mendunianya batik di kalangan budaya internasional memang sangat mengharukan. Namun, apakah itu semua diimbangi dengan peran aktif warga dalam hal pelestarian batik? Sudah dikatakan bahwa remaja juga mempunyai peran penting di titik ini. Nah, seberapa jauhkah peran remaja dalam hal ini?
Akhir-akhir ini, para remaja kerapkali menggunakan batik dalam hal berpakaian maupun berbagai aksesoris yang lain. Apalagi, selepas Malaysia mematenkan batik sebagai produk resmi mereka. Banyak remaja Indonesia yang menentang insiden tersebut, lalu menuliskan pendapat mereka di media remaja maupun internet. Sayangnya, pada saat menuliskannya tidak diimbangi dengan perlakuan untuk lebih menghargai batik. Kalau merasa memiliki mengapa sering malu untuk memakainya? Batik yang semula belum terlalu tren dan kadang dianggap kuno, mendadak meroket, menghiasi berbagai desain busana. Jadi, bisa dikatakan, berkat peristiwa itulah warga, terutama remaja menjadi sadar bagaimana seharusnya batik itu diperlakukan. Mungkin saja, hal ini pulalah yang menginspirasi lahirnya Perwal No.24 Tahun 2008, mengenai kewajiban setiap siswa Kota Yogykarta untuk mengenakan baju batik setiap hari Jum’at. Aturan ini juga bisa memicu para siswa untuk tidak malu saat memakai batik. Semoga saja penampilan yang baru ini mampu memberikan kontribusi positif bagi para remaja Yogyakarta dalam melstarikan batik.
Di sisi lain, pemasyarakatan batik di kalangan remaja tidak harus dilakukan dengan transparan, yakni dengan mengenalkan produk asli batik secara langsung, seperti jarik, selendang, kebaya, blangkon, dan lain-lainnya. Terkadang proses seperti ini memang membutuhkan jalan pintas, dengan cara memadukannya ke dalam aksesoris remaja tanpa meninggalkan keaslian. Maka, tidak heran jika banyak dijumpai benda semacam tas, sampul, dan beberapa desain dengan corak batik.
Bagi remaja yang memakai corak batik dalam berbagai bentuk dengan tujuan melestarikan batik, tentunya takkan menimbulkan masalah. Justru itulah jalan untuk mempererat hubungan antara remaja dengan batik. Yang menjadi masalah, jika para remaja menggunakan batik sekedar untuk ‘nampang’ tanpa memedulikan hakikat batik yang sebenarnya. Tanpa tahu kalau batik dapat tercipta dari proses pembuatan –yang sesungguhnya—rumit, mulai dari nglowong hingga nglorot yang tentu saja memakan waktu lama. Saking rumitnya, tidak banyak daerah di Yogyakarta yang mampu memproduksi batik secara kontinyu. Sebagai akibatnya, harga batik tulis melambung tinggi. Dalam rangka memperbesar peluang untuk membeli batik, lahirlah batik cap yang pembuatannya lebih praktis dan tentu saja tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Batik yang seperti itulah yang kerap ditemui di kalangan remaja, bukan jenis batik tradisional pada zaman dahulu.
Untuk mengantisipasinya, ada baiknya jika setiap sekolah mempunyai peralatan batik secara lengkap sehingga apabila ada beberapa siswanya yang ingin merasakan proses membatik dapat mempraktikannya. Bahkan, bukan hal yang mustahil jika ada pelajaran khusus membatik. Bayangkan saja jika banyak remaja yang tertarik dengan membatik dan setengah diantaranya mau menekuninya. Hal positif yang satu ini mampu menghasilkan uang sebagai pokok pencaharian maupun tambahan. Hubungan antara remaja dengan batik pun menjadi semakin dekat.
Pada dasarnya, bagaimana hubungan antara batik dengan para remaja? Teman atau sahabat? Tak ada jawaban yang pasti sebab semuanya tergantung pada masing-masing individu dalam memaknai batik. Maka, beruntunglah remaja yang menganggap batik sebagai sahabat mereka. Selain memperindah penampilan, semangat untuk melestarikan budaya sendiri itu mampu meningkatkan rasa cinta pada warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

(Mudrikah/SMAN 1 Yogyakarta)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: