BINGKISAN VALENTINE

15 02 2009

Devi mengerling pada keempat kawannya yang kini berbinar-binar, mengacungkan potongan coklat mereka yang panjangnya nyaris sejengkal tangan orang dewasa. Zee akan menghadiahkan coklat termanisnya untuk Vio, gebetan barunya, ‘hasil penemuan’-nya setelah bertahun-tahun mencari-cari cinta. Sementara Rei bilang, dia pengen membingkiskan kado terindahnya untuk Ami, sahabat penanya yang berada di Padang. Lalu, Ikke, dia mah sudah bercerita sejak dahulu, kalau Valentine tiba, dia akan menghadiahkan sebatang coklat pada papanya, sebagai tanda terima kasih karena papanya sudah membesarkan dia, meski hanya single parent. Itu gara-gara mamanya kecelakaan dua tahun lalu. Dan di antara keempat kawan Devi, Sani-lah yang kelihatan paling bersemangat.
“Aku sih sudah tahu kalau Dani gemar makan coklat. Jadi, nggak ada salahnya aku ngasih coklat ini buat dia, sekaligus ulang tahun hari jadi kami yang kedua. Semua denger ?!!” Pipi Sani berseri-seri merah. Keempat gadis lainnya hanya beruhu-uhu menaggapinya.
“Kamu sendiri, Dev? Mau ngasih coklat sama siapa?” tanya Zee sambil memperbaiki letak duduknya, diikuti yang lain.
“Aku…, aku.. , eng.., aku masih bingung. Nggak tahu mau ngasih coklat ke siapa…” Glek ! Devi mendadak kaku, gugup tak karuan. Sani, Zee, Ikke, dan Rei mendesah pelan.
“Masa belum, sih?” Rei protes lirih. Devi hanya mengangguk pelan.
”Udah, deh, lupain aja !” Devi bangkit tanpa semangat menuju pintu kelas. Keempat gadis lainnya berpandangan penuh arti. Mata mereka saling bertemu dan mengisyaratkan bahwa memang ada yang perlu dibicarakan.

Adakah yang tahu kalau Valentine tahun lalu Devi mendapatkan kado terburuk dari segala kado yang pernah ia terima selama ini? Mungkin hanya keempat kawannya saja yang tahu. Malam Valentine itu, Devi memandangi lekat potret papa mamanya beberapa tahun lalu. Tepat setahun lalu, papa mamanya memutuskan untuk berpisah. Semenjak saat itulah, ia tak mau tinggal dengan keduanya. Ia memilih nge-kost. Sekarang, saat keempat kawannya menyibukkan diri mengenai siapa yang akan menerima coklat kasih sayangnya masing-masing, Devi memilih tak berkomentar sedikitpun. Akhir-akhir ini perasaannya semakin tak menentu saja. Ia bingung, hendak memberikan coklatnya pada siapa. Bahkan, mengharap mendapatkan coklat pun tidak. Papa mamanya mana mau tahu hari itu hari Valentine apa bukan.
Seandainya saja papa dan mamanya masih berada alam satu atap, Devi pasti akan menghadiahi keduanya seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni sebuah cake coklat berbentuk hati, bertuliskan ‘Buat Papa Mama’. Itulah cara Devi menunjukkan rasa cintanya. Tapi, kini keduanya seolah jauh dari jangkauan. Sungguh, itu membuat Devi takut menghadapi Valentine tahun ini. Bayang-bayang itu seolah baru saja terjadi. Sebelum matanya sempat terpejam dalam rasa kantuk yang mencekam, sebuah ide terbersit. Devi justru tersenyum memikirkannya.

“Dev, udah tahu siapa yang bakal kamu kasih coklat hari ini?” tanya Rei penasaran. Tiga lainnya menunggu jawaban dengan was-was.
“Nggak usah khawatir ! Udah beres, kok. Sayang, mereka itu bukan kalian! Ha..ha..ha..” Devi tertawa nyaring. Rei, Zee, Ikke, dan Sani lega mendengarnya. Kedengarannya Devi sudah tak murung lagi.
“Oke, deh, kalau gitu. Ke kantin yuk !” ajakan Ikke, langsung disambut meriah oleh empat gadis yang lain. Devi merasa tak kesepian lagi. Tak lama kemudian, kelimanya sudah bersenang-senang di kantin. Dan semua tertawa, tak terkecuali.
Devi tak tahu, ada empat batang coklat yang sudah tergeletak di tasnya, untuknya, dari keempat kawannya. Sebaliknya, tak ada yang tahu mengapa hari ini, Hari Valentine, Devi kelihatan senang, padahal hari sebelumnya ia nyaris tak tersenyum. Pagi itu juga, seorang pengantar paket roti telah mengirim dua buah kardus yang masing-masing berisi separuh cake coklat berbentuk hati kepada papa dan mamanya Devi. Devi berharap, dengan bingkisan itu keduanya akan sadar betapa dirinya sangat merindukan keduanya. Ia ingin keduanya kembali bersama tahun ini, meski tak tahu harapan itu akan terkabul atau tidak. Semua biarlah berjalan dengan sendirinya. Yang penting, hari ini ia merasa tak terbebani lagi. Jika saja cinta kedua orang tuanya tak mampu bersatu lagi, ia sudah merasa bahagia hidup di sekeliling keempat kawannya yang sayang padanya. Bukankah memang seharusnya begitu ?
***


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: